perryquinn – Musim kemarau di Indonesia tidak selalu identik dengan cuaca panas dan kering. Di beberapa kawasan dataran tinggi, justru terjadi fenomena yang jarang ditemukan di negara tropis, yakni munculnya embun es atau yang lebih dikenal sebagai embun upas. Dalam beberapa pekan terakhir, fenomena ini kembali terlihat di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, dan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, sehingga menarik perhatian wisatawan, fotografer, hingga pecinta alam.
Hamparan rerumputan, dedaunan, dan permukaan tanah yang diselimuti kristal es tipis menciptakan pemandangan bak negeri bersalju. Fenomena tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena memberikan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Namun, di balik keindahannya, embun es juga memiliki dampak bagi lingkungan dan aktivitas masyarakat setempat.
Fenomena Embun Es Kembali Muncul di Bromo dan Dieng
Kemunculan embun es di kawasan Bromo dan Dieng sebenarnya bukanlah hal baru. Fenomena ini hampir selalu terjadi setiap musim kemarau, terutama pada periode Juli hingga Agustus ketika suhu udara mencapai titik terendah.
Di kawasan Gunung Bromo, embun upas mulai terlihat menyelimuti lautan pasir, padang savana, serta vegetasi di sekitar Cemoro Lawang. Suhu udara yang turun hingga sekitar 5 derajat Celsius menyebabkan embun yang terbentuk pada malam hari membeku menjadi lapisan kristal es tipis. Fenomena ini menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin menyaksikan pemandangan unik yang jarang ditemukan di Indonesia.
Sementara itu, Dataran Tinggi Dieng juga mengalami kondisi serupa. Kawasan yang dikenal sebagai “Negeri di Atas Awan” tersebut memang menjadi salah satu wilayah terdingin di Pulau Jawa. Saat suhu turun mendekati titik beku, embun yang menempel pada tanaman dan permukaan tanah berubah menjadi lapisan es tipis yang memutihkan area sekitar. Pemandangan tersebut membuat banyak wisatawan rela datang sejak dini hari untuk mengabadikan momen langka yang hanya berlangsung beberapa jam sebelum matahari terbit sempurna.
Apa Itu Embun Upas?
Embun upas adalah fenomena pembentukan kristal es dari embun yang membeku akibat suhu udara yang sangat rendah. Dalam istilah meteorologi, fenomena ini dikenal sebagai frost.
Meski Indonesia berada di wilayah tropis, embun es tetap dapat terbentuk di daerah pegunungan yang memiliki ketinggian cukup tinggi. Ketika malam hari berlangsung cerah tanpa banyak awan, panas dari permukaan tanah akan terlepas ke atmosfer. Akibatnya, suhu udara di dekat permukaan tanah turun drastis hingga mencapai titik yang memungkinkan embun membeku.
Nama “upas” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti racun. Sebutan tersebut muncul karena embun beku dapat merusak tanaman pertanian dengan membekukan jaringan daun dan batang muda. Akibatnya, tanaman menjadi layu bahkan mati setelah terkena sinar matahari.
Penyebab Munculnya Embun Es
Ada beberapa faktor yang menyebabkan embun es muncul di kawasan Bromo dan Dieng, antara lain:
Musim Kemarau
Pada musim kemarau, langit cenderung cerah dan minim awan. Kondisi ini membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari.
Ketinggian Wilayah
Bromo dan Dieng berada di dataran tinggi dengan suhu yang jauh lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya. Semakin tinggi suatu wilayah, semakin rendah pula suhu udaranya.
Fenomena Bediding
Masyarakat Jawa mengenal istilah bediding, yaitu kondisi udara dingin ekstrem yang terjadi saat puncak musim kemarau. Fenomena ini dipengaruhi oleh massa udara dingin dan kering dari Benua Australia yang bergerak menuju wilayah Indonesia. Bediding menjadi salah satu pemicu utama munculnya embun upas di berbagai kawasan pegunungan.
Kelembapan Udara
Meski udara terasa kering, masih terdapat uap air yang cukup untuk membentuk embun. Ketika suhu turun drastis, embun tersebut berubah menjadi kristal es.
Daya Tarik Wisata yang Mendunia
Bagi wisatawan, embun es merupakan fenomena yang sangat menarik. Tidak sedikit pengunjung yang sengaja merencanakan perjalanan ke Bromo atau Dieng pada musim kemarau demi menyaksikan langsung “salju tropis” tersebut.
Di kawasan Bromo, hamparan lautan pasir yang dihiasi lapisan es tipis menciptakan panorama yang sangat fotogenik. Pemandangan ini semakin memukau ketika sinar matahari pagi mulai menyinari kristal es yang berkilauan.
Sementara di Dieng, embun es yang menyelimuti ladang dan rerumputan menghadirkan suasana yang berbeda dari kebanyakan destinasi wisata di Indonesia. Banyak wisatawan mengaku merasa seperti berada di negara empat musim karena lanskap yang tampak memutih pada pagi hari.
Fenomena ini juga memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata lokal. Tingkat kunjungan wisatawan biasanya meningkat selama periode kemunculan embun upas. Pelaku usaha penginapan, penyedia jasa wisata, hingga pedagang lokal ikut merasakan manfaat ekonomi dari meningkatnya jumlah pengunjung.
Dampak bagi Lingkungan dan Pertanian
Meski indah dipandang, embun upas tidak selalu membawa kabar baik bagi masyarakat sekitar.
Para petani di kawasan Bromo maupun Dieng sering kali menghadapi risiko kerusakan tanaman akibat suhu dingin ekstrem. Tanaman kentang, kubis, bawang, dan berbagai jenis sayuran dataran tinggi sangat rentan terhadap embun beku.
Ketika kristal es menempel pada daun dan jaringan tanaman, sel-sel tanaman dapat rusak akibat pembekuan. Setelah terkena sinar matahari, tanaman yang terdampak biasanya berubah warna menjadi kecokelatan dan akhirnya mati.
Karena itulah, bagi sebagian petani, embun upas dianggap sebagai ancaman yang dapat menurunkan hasil panen. Kondisi ini menjadi alasan mengapa fenomena tersebut diberi nama “upas” atau racun.
Selain itu, pihak pengelola kawasan konservasi juga mengimbau wisatawan untuk tidak menginjak atau menyentuh tanaman yang tertutup embun es. Vegetasi yang sedang mengalami pembekuan menjadi lebih rapuh dan rentan rusak.
Tips Menikmati Fenomena Embun Es
Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan embun upas secara langsung, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Datang Sebelum Matahari Terbit
Waktu terbaik untuk melihat embun es adalah antara pukul 04.00 hingga 06.00 pagi. Setelah matahari mulai meninggi, lapisan es akan cepat mencair.
Gunakan Pakaian Hangat
Suhu udara di Bromo dan Dieng saat embun es muncul bisa berada di bawah 10 derajat Celsius, bahkan mendekati 0 derajat di beberapa lokasi. Jaket tebal, sarung tangan, penutup kepala, dan kaus kaki menjadi perlengkapan wajib.
Jaga Kondisi Tubuh
Udara dingin ekstrem dapat meningkatkan risiko hipotermia, terutama bagi anak-anak dan lansia. Pastikan tubuh tetap hangat dan cukup istirahat sebelum berwisata.
Hormati Alam
Hindari menginjak tanaman yang tertutup embun es serta jangan merusak vegetasi demi mendapatkan foto yang menarik.
Fenomena Alam yang Selalu Dinanti

Kemunculan embun es di Bromo dan Dieng menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat beragam. Meski berada di wilayah tropis, beberapa daerah tetap mampu menghadirkan fenomena yang identik dengan negara empat musim.
Embun upas tidak hanya menjadi daya tarik wisata yang unik, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya memahami dinamika alam dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Keindahan kristal es yang menghiasi pegunungan memang memukau, namun di sisi lain terdapat tantangan yang harus dihadapi oleh para petani dan pengelola kawasan.
Dengan pengelolaan yang baik serta kesadaran wisatawan untuk menjaga lingkungan, fenomena embun es dapat terus menjadi salah satu pesona alam Indonesia yang dinanti setiap musim kemarau.
Referensi
- DetikJatim – Brrrr! Embun Es Selimuti Gunung Bromo, Suhu Capai 5 Derajat Celsius
- TIMES Indonesia – Embun Upas Kembali Selimuti Gunung Bromo, Wisatawan Serasa di Negeri Salju
- Metro TV News – Viral, Embun Es Selimuti Kawasan Gunung Bromo
- Liputan6 – Fenomena Embun Es di Bromo, Wisatawan Diminta Pakai Pakaian Tebal
- Indonesia Online – Embun Upas Bromo: Racun Indah di Puncak Musim Kemarau
- SinarNews – Bromo dan Dieng Diselimuti Embun Es, Suhu Ekstrem Karena Bediding