Ringkasan Cepat:
Jakarta, 24 Juni 2026 — BMKG mengonfirmasi fenomena El Nino kuat, yang publik sebut “Godzilla El Nino”, resmi aktif sejak Juni 2026 dan berpotensi memicu kemarau terkering dalam tiga dekade di sejumlah wilayah Indonesia hingga Oktober mendatang.
Mengapa Ini Penting?

Istilah “Godzilla El Nino” sebenarnya bukan istilah ilmiah resmi BMKG, melainkan sebutan populer yang pertama kali dipakai klimatolog NASA untuk menggambarkan El Nino superkuat seperti yang terjadi pada 1997 dan 2015. Sejak April 2026, BRIN sudah memperingatkan potensi munculnya variasi kuat El Nino ini di musim kemarau Indonesia.
Pada awal kemunculan isu ini, beberapa akademisi seperti pakar lingkungan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo sempat menilai kondisi belum masuk kategori ekstrem. Namun, perhitungan terbaru BMKG awal Juni 2026 menegaskan arah yang berbeda: fenomena ini diprediksi bertahan hingga awal 2027.
“62 persen peluang intensitasnya mencapai kategori kuat.”
— BMKG, pernyataan resmi Instagram, 18 Juni 2026
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa musim kemarau 2026 akan lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal, dengan puncak diproyeksikan terjadi pada Juli hingga September 2026.
Reaksi dan Dampak

Dampak El Nino kuat ini sudah dirasakan lebih dari sekadar prediksi cuaca. Profesor Riset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa fenomena ini berinteraksi dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia, yang memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah.
“Menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering.”
— Prof. Erma Yulihastin, Peneliti BRIN, 21 April 2026
Di sisi lain, WALHI memperingatkan dampak lanjutan terhadap ketahanan pangan. Wilayah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan dinilai paling rentan mengalami kekeringan sedang hingga ekstrem akibat fenomena ini.
Risiko ini bukan sekadar proyeksi. Per 21-23 Juni 2026, satelit SiPongi mendeteksi enam titik panas di Kalimantan Tengah, dengan sebagian wilayah selatan provinsi tersebut sudah masuk zona merah atau kategori sangat mudah terbakar. Di Sumatera Selatan, BPBD Musi Rawas mencatat 28 titik panas sepanjang Juni 2026, sementara Jambi sudah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 27 April 2026.
Kronologi Peristiwa
| Waktu | Kejadian | Sumber |
|---|---|---|
| Maret 2026 | La Nina lemah berakhir; transisi ke El Nino mulai terdeteksi | BMKG |
| 21 April 2026 | BRIN resmi memperingatkan potensi “Godzilla El Nino” musim kemarau 2026 | CNBC Indonesia |
| 27 April 2026 | Provinsi Jambi tetapkan status siaga darurat karhutla | MerahPutih |
| 18 Juni 2026 | BMKG konfirmasi peluang El Nino kuat 62%, bertahan hingga awal 2027 | CNBC Indonesia |
| 21-23 Juni 2026 | Enam hotspot terdeteksi di Kalimantan Tengah, zona merah ditetapkan | Kompas |
Apa Selanjutnya?

BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau 2026 terjadi secara bertahap, dengan sekitar 369 zona musim atau hampir separuh wilayah Indonesia mengalami puncak kekeringan pada Agustus 2026. Dampak langsung El Nino terhadap Indonesia diperkirakan berlangsung sepanjang musim kemarau hingga Oktober 2026, meski siklus El Nino secara global bisa bertahan lebih lama.
BMKG telah merekomendasikan langkah lintas sektor: penyesuaian jadwal tanam di sektor pertanian, revitalisasi waduk untuk ketersediaan air, serta kesiapan menghadapi potensi infeksi saluran pernapasan akut akibat asap karhutla. Operasi Modifikasi Cuaca sudah dijalankan di Jambi sejak awal Juni untuk membasahi area gambut rawan sebelum musim kering mencapai fase terparahnya.
Baca Juga Embun Es Selimuti Bromo dan Dieng, Fenomena Langka yang Memikat Wisatawan di Musim Kemarau 2026
Pertanyaan Umum
Apakah “Godzilla El Nino” istilah resmi BMKG?
Tidak. Ini sebutan populer untuk El Nino dengan intensitas sangat kuat, bukan terminologi ilmiah resmi.
Kapan puncak musim kemarau 2026 di Indonesia?
BMKG memprediksi puncak kemarau berlangsung bertahap pada Juli hingga September 2026, dengan Agustus sebagai bulan dengan wilayah terdampak terluas.
Wilayah mana yang paling berisiko kekeringan dan karhutla?
Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, sebagian Sumatera, dan Jawa termasuk wilayah dengan risiko kekeringan dan karhutla tertinggi menurut BMKG dan WALHI.