Ringkasan Cepat:

  • Karhutla melanda belasan kabupaten/kota di 10 provinsi dari Sumatera hingga Papua sepanjang pekan pertama Agustus 2026, menurut catatan BNPB.
  • BMKG mendeteksi 9.538 titik panas hingga awal Agustus 2026, seiring El Nino yang sudah masuk kategori kuat.
  • Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ditutup sementara sejak 8 Agustus 2026 setelah 520 hektare kawasannya terbakar.

Jakarta, 19 Agustus 2026 — Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengingatkan kebakaran hutan dan lahan kian meluas serta tetap mendominasi kejadian bencana selama puncak musim kemarau 2026. Sepanjang pekan pertama Agustus, api melanda belasan kabupaten/kota di sepuluh provinsi, dari Sumatera hingga Papua, dipicu cuaca panas dan El Nino kuat.

Mengapa Ini Penting?

BNPB: Karhutla Kian Meluas, Terus Dominasi Bencana Musim Kemarau 2026

Puncak musim kemarau 2026 di Indonesia jatuh pada Juli–September, dengan Agustus menjadi bulan terluas cakupannya karena mencakup 369 zona musim atau sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia. Kondisi ini diperparah oleh El Nino yang menurut pemantauan resmi sudah melampaui ambang kategori kuat sejak akhir Juni, dan berpotensi bertahan hingga awal 2027. Curah hujan yang jauh di bawah rata-rata klimatologis membuat lahan gambut dan hutan lebih rentan terbakar, sebagaimana pernah dibahas dalam analisis krisis lahan gambut di Indonesia.

Bagi masyarakat Indonesia, dampaknya bukan sekadar hilangnya tutupan hutan. Asap karhutla mulai mengganggu kualitas udara di sejumlah wilayah, sementara kekeringan menekan ketersediaan air bersih di banyak desa. Melalui akun resminya, BMKG menyatakan Indonesia telah memasuki fase kritis karhutla tahun ini, dengan puncak kemarau yang bertepatan dengan El Nino sangat kuat disebut sebagai pemicu utamanya.

Reaksi dan Dampak

BNPB: Karhutla Kian Meluas, Terus Dominasi Bencana Musim Kemarau 2026

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa salah satu titik api di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, muncul dari tumpukan ranting kering di kawasan perbukitan berbatu yang mudah terbakar akibat suhu panas. Pola serupa berulang di berbagai daerah lain: dedaunan dan ranting kering yang tersulut suhu tinggi, ditambah kelalaian manusia seperti pembakaran sampah dan pembukaan lahan dengan cara dibakar.

Dampak paling mencolok terjadi di kawasan wisata. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menutup seluruh pintu masuk sejak 8 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB setelah kebakaran menghanguskan sekitar 520 hektare vegetasi, termasuk cemara gunung dan akasia. Pemadaman dilakukan lewat jalur darat dan udara dengan mengerahkan tiga helikopter serta tujuh mobil pemadam kebakaran. Di Sumatera Selatan, BPBD mencatat 1.077 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.329 hektare hingga Agustus 2026, seiring provinsi itu memasuki puncak kemarau paling kering dalam beberapa tahun terakhir — kondisi yang juga tercermin dalam pemantauan enam provinsi rawan karhutla oleh BMKG.

Kabar baiknya, sejauh ini BNPB memastikan tidak ada korban jiwa dari rentetan kejadian karhutla di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Maluku pada 8–10 Agustus 2026, dengan total lahan terdampak sekitar 11,5 hektare untuk empat kejadian tersebut.

Kronologi Peristiwa

BNPB: Karhutla Kian Meluas, Terus Dominasi Bencana Musim Kemarau 2026
WaktuKejadianSumber
1–2 Agustus 2026Karhutla di Desa Taddakong, Pinrang (Sulsel) dan Desa Gemantar, Wonogiri (Jateng); tanpa korban jiwaBNPB
4–5 Agustus 2026Karhutla dominasi bencana nasional bersama kekeringan di Jepara dan Semarang, JatengBNPB
6–7 Agustus 2026Karhutla 13 hektare di Belitung Timur dan 2,5 hektare di Wonogiri berhasil dipadamkanBNPB
8–10 Agustus 2026Karhutla menyebar ke 10 provinsi termasuk Aceh, Bangka Belitung, dan Jember; Bromo terbakar 520 hektareBNPB, Republika
Hingga 11 Agustus 2026BMKG catat 9.538 hotspot nasional; El Nino diperkirakan capai level sangat kuatBMKG

Apa Selanjutnya?

BNPB: Karhutla Kian Meluas, Terus Dominasi Bencana Musim Kemarau 2026

BMKG dan BNPB terus menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca di sejumlah wilayah rawan, termasuk Riau dan Jawa Barat, untuk memicu hujan buatan sebelum kekeringan makin parah. Fenomena El Nino yang diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 membuat kewaspadaan perlu dijaga setidaknya sampai puncak kemarau berakhir pada September, terutama di Sumatera dan Kalimantan yang berisiko paling tinggi — wilayah yang juga banyak disorot dalam ulasan dampak El Nino terhadap Indonesia.

BNPB meminta pemerintah daerah memperkuat patroli terpadu, mempercepat deteksi dini titik panas, dan mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta segera melapor ke BPBD setempat begitu menemukan titik api, agar penanganan bisa dilakukan sebelum api meluas — sebuah pelajaran yang juga tampak dari kondisi lahan kering di Situ Gede yang berubah menjadi padang rumput akibat kemarau panjang tahun ini.


Artikel ini disusun oleh Redaksi PerryQuinn, tim jurnalisme lingkungan di perryquinn.com.